With Dr. Adi W. Gunawan, CCH.

Indonesia Leading Expert in Mind Technology

Scientific EEG and Clinical Hypnotherapy @ Adi W. Gunawan Institute

Pendidikan dan Sertifikasi Hipnoterapis Profesional 100 Jam Tatap Muka, Sesuai Standar Kurikulum ACHE Amerika

Quantum Life Transformation with Dr. Adi W. Gunawan, CCH.

Transformasi Kehidupan Secara Holistik dan Transendental

With Nathalia Sunaidi, C.Ht, CI.

Salah 1 Hipnoterapis Terbaik di Indonesia dengan pengalaman lebih dari 10.000 jam

Scientific and Clinical Hypnotherapy @ Nathalia Sunaidi Institute

Pendidikan dan Sertifikasi Hipnoterapis Profesional 100 Jam Tatap Muka

Kamis, 23 November 2017

Ada Apa dengan Menantu VS Mertua

Ada Apa dengan Menantu VS Mertua


Masalah mertua perempuan dengan menantu perempuan merupakan masalah klasik yang banyak kita temukan di sekitar kita sehari-hari. Sudah merupakan rahasia umum dimana banyak sekali mertua perempuan yang tidak bisa hidup akur dan rukun dengan menantu perempuannya. Bahkan sampai ada yang mengibaratkan drama menantu perempuan "versus" ibu mertua berlangsung lebih panjang dan lebih lama dari sinetron Tersanjung. Yang seingat saya sekuelnya tidak habis-habis mulai dari kelas 1 SMP hingga duduk di bangku kuliah. Dan konfliknya seringkali bisa menjadi begitu rumit hingga tak jarang menimbulkan keretakkan dan ketidakharmonisan dalam keluarga, dan bahkan hingga perpisahan ataupun perceraian.  

Sebenarnya ada banyak hal yang bisa menyebabkan konflik diantara mertua dengan menantu perempuan. Yang akan saya bahas saat ini terbatas hanya dari berdasarkan pengalaman dan kasus nyata yang umumnya terjadi dan pernah saya tangani di ruang praktek. Yakni dimana menantu perempuan yang tinggal bersama di rumah mertua merasa sakit hati, marah, sedih, benci ataupun tertekan dengan kata-kata kasar, bentakan, amarah, tuduhan, sering dibanding-bandingkan, selalu disalahkan, dan segala perlakuan lain yang dianggap kurang semestinya dari mertua perempuan.

Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang memilih untuk tetap tinggal bersama dengan orang tuanya bahkan setelah ia menikah dan memiliki anak. Biasanya tak jauh-jauh dari alasan ekonomi seperti ingin menghemat biaya, tidak mau repot dan belum punya rumah sendiri. Ada juga yang karna masih memiliki ketergantungan yang tinggi dengan orang tua, tidak bisa tinggal jauh ataupun terpisah dari orang tua, tidak boleh meninggalkan rumah orang tua, kasihan orang tua tinggal sendiri tidak ada yang merawat, tak tenang meninggalkan istri dan anak sendirian di rumah, dsb.

Apapun alasannya semua orang yang telah menikah pastilah mengerti betul, tidaklah mudah untuk tinggal rukun bersama dengan orang lain. Meski tidak terjadi kepada semua orang namun nyatanya masih banyak orang yang mengalami kesulitan untuk rukun hidup bersama dengan orang lain di dalam satu atap meskipun orang tersebut adalah pasangan kita yang kita pilih sendiri. Apalagi jika di dalam satu atap itu juga ada orang tua pasangan kita dan saudara-saudara dari pasangan kita. 

Entah mengapa umumnya perempuan lebih rentan terkena masalah saat tinggal bersama dengan mertua perempuan dan adik-adik perempuan dari pasangannya ketimbang laki-laki. Mungkin bisa terjadi karna perempuan memiliki perasaan yang lebih halus, lebih peka dan pastinya lebih sensitive ketimbang laki-laki. Itu sebabnya “gesekan-gesekan” yang tidak enak lebih mudah terjadi antar perempuan ketimbang lawan jenis. Terlebih lagi jika perempuan itu merupakan tipikal ibu rumah tangga yang lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah, sama seperti mertua perempuannya. Hal seperti ini seringkali mengakibatkan sering bertemu dan sering menimbulkan banyak konflik.

Jika sudah terjadi konflik antara menantu perempuan dengan mertua perempuan maka biasanya hampir pasti suami juga pasti akan ikut terlibat atau dilibatkan. Hal ini seringkali mengakibatkan suami terjepit diantara dua pilihan yang begitu sulit. Membela ibu, istrinya marah. Membela istri, ibunya yang marah. Tentu saja hal ini seringkali membuat suami menjadi pusing dan kerap kali ikut tertekan. Padahal yang diinginkan oleh suami seringkali hanyalah hidup rukun dan damai. Namun mengapa jika sudah melibatkan istri dan ibu tinggal bersama di dalam satu atap, seringkali menjadi begitu sulit untuk hidup rukun dan damai.

Apalagi sudah menjadi seperti mitos bahwa banyak yang mengatakan bahwa hidup bersama dengan mertua perempuan rasanya seperti di neraka, karena tidak bebas. Mulai dari apa-apa diatur, sering ditekan, disuruh-suruh, dituduh, dibentak, dimarahi, dibanding-bandingkan dengan anak perempuan mertua, selalu salah, sering dijelek-jelekan dan seakan tidak punya hak untuk membela diri. Apalagi yang tinggal di rumah mertuanya dan mertuanya tidak punya pembantu ataupun pembantunya pulang hari, maka hampir bisa dipastikan si menantu perempuan biasanya akan diperlakukan merangkap seperti pembantu.

Apalagi yang status social (baca: ekonomi) menantunya kalah jika dibandingkan dengan status sosial mertuanya dan tinggal bersama dengan mertua perempuan dan anak-anak perempuan dari mertuanya pula. Hal ini seringkali menjadikan menantu perempuan seakan kehilangan hak suaranya dan membuatnya menjadi rentan merasa tertekan.

Saya yakin setiap orang tua dan mertua yang normal umumnya pasti tidak ada maksud jahat apapun terhadap anak ataupun menantunya. Hanya saja seringkali luka batin dan minimnya pengetahuan yang dimiliki oleh para orang tua dan mertua ini tanpa sadar membuat mereka mengulangi masa lalu mereka yang kelam terhadap anak dan menantu mereka. Apa sih maksudnya? Untuk lebih jelasnya saya akan langsung gunakan contoh kasus nyata yang pernah saya tangani di ruang terapi.

Ini merupakan kasus nyata dan benar-benar terjadi serta nyatanya banyak terjadi di luaran, setidaknya di ruang terapi saya. Untuk melindungi privasi klien tentu saja saya telah mengganti nama asli klien dengan nama samaran.

Suatu hari saya dihubungi oleh seseorang yang bernama Raffi (bukan nama sebenarnya). Raffi sedang mencari terapis untuk membantu istrinya Nagita (juga bukan nama sebenarnya). Nagita, seorang ibu muda yang cantik datang kepada saya dengan keluhan memiliki hal yang terpendam yang meliputi rasa marah, terluka, dendam, sakit hati, menyesal, kesepian, sedih dan dikucilkan selama bertahun-tahun dengan mertua perempuannya. Dimana hal ini telah berlangsung selama bertahun-tahun. 

Nagita jelas sakit hati karna seringkali dibentak, dimarahi, dituduh padahal jelas-jelas tidak salah, sering dibanding-bandingkan dengan anak perempuan mertua, anaknya juga sering dibanding-bandingkan dan dijelek-jelekan. Dan tentunya Nagita bisa dibilang hanya bisa menelan pahit semua rasa getir yang ia alami selama ia tinggal bersama mertua di rumah mertuanya karna ia merasa hampir tidak punya hak untuk berbicara dan membela dirinya.

Awalnya Nagita merupakan wanita yang ceria. Namun setelah beberapa tahun ini, semenjak ia dan suaminya memutuskan untuk tinggal bersama di rumah mertua, bahagia seakan lenyap dari hati dan wajahnya. Ia mengaku sakit hati saat ia dibentak, dimarahi, dituduh, dibanding-bandingkan, dijelek-jelekan dan disuruh-suruh oleh mertua perempuannya. 

Selintas ia menyebutkan meski mertuanya memiliki pembantu pulang hari di rumahnya, namun entah mengapa, mertua perempuannya selalu ngotot piring kotor sehabis makan malam harus langsung dicuci bersih malam itu juga saat pembantunya sudah pulang. Dan sudah seperti rahasia umum, jika ada piring kotor di rumah mertua dan tidak ada pembantu atau pembantunya sudah pulang, maka sudah seperti otomatis seakan-akan hal ini menjadi kewajiban menantu perempuan, tanpa disuruh. Karna sudah bisa dipastikan jika Nagita tidak mencuci piring maka hampir pasti mertuanya lah yang akan mencuci dan marah-marah. Jadilah setiap malam ia mencuci piring kotor sambil menangis sendirian.


Hipnoterapi solusi menantu vs mertua
Source: makassar.tribunnews.com. Foto hanya untuk ilustrasi. 

Namun bukan hal itu yang membuat Nagita datang kepada saya. Karna ternyata yang paling membuat ia sakit hati adalah saat setiap kali ia mengingat-ingat saat ia dibentak dan dimarahi oleh mertua perempuannya bertahun-tahun yang lalu, dan masih terjadi hampir setiap hari hingga sekarang. Hal tersebut ternyata menjadikannya tertekan dan kerap marah-marah. Dan karna ia tinggal menumpang di rumah mertua tentu saja hal ini menjadikannya seakan-akan tak punya hak untuk membela dirinya.

Jadi setiap kali ia dimarahi, dibentak, dituduh, dibandingkan, dijelek-jelekkan, ia hanya memilih untuk diam seribu bahasa. Tak pernah sekalipun ia membalas omongan buruk yang dilontarkan oleh mertua perempuannya. Namun berdiam diri tak lantas menjadikannya baik-baik saja. Karna saat seseorang kesal dan ia memilih untuk berdiam diri, ia otomatis menekan ke dalam hatinya semua emosi negative tersebut dan sedang menimbun sampah emosi di dalam hatinya tanpa ia sadari. Karna sesungguhnya saat seseorang sedang mengalami peritiwa yang membuatnya merasa tidak enak, tidak nyaman, marah, terluka, dendam, sakit hati, menyesal, kesepian, sedih, dan sejenisnya di dalam hatinya, sesungguhnya orang itu sedang mengalami yang namanya luka batin (baca: sakit hati).

Dan karena hal ini terjadi hampir setiap hari maka tentu saja saat sudah didiamkan selama bertahun-tahun sampah emosinya sudah menumpuk dan menggunung. Karna timbunan sampah emosinya sudah begitu tinggi maka adalah wajar jika kini Nagita cenderung gampang emosi dan gampang marah. Ibarat kata, ada masalah sedikit saja, bisa membuat Nagita marahnya banyak (berlebihan dan tidak wajar).

Ibaratnya jika kita menekan balon udara di sisi kanan, maka otomatis balon tersebut akan menggembung di sisi lainnya (yang paling gampang). Itu pula yang terjadi dengan Nagita. Kini saat ia merasa tertekan oleh mertua perempuannya, dan ia masih tidak punya kuasa untuk melawan (karna masih tinggal di rumah mertua). Maka Nagita otomatis akan mengeluarkan tekanannya ke orang lain yang lebih lemah. Dalam kasus ini, Nagita melampiaskannya ke suami dan kadang hingga ke anaknya.

Hal seperti ini merupakan hal yang sering terjadi dan banyak saya temukan di ruang terapi. Dimana dulu korban sekarang pelaku. Jadi, ternyata selidik punya selidik, mertua Nagita pun DULU ternyata merasa tertekan dan diperlakukan semena-mena oleh mertua perempuannya berpuluh-puluh tahun yang lalu. Hal tersebut tentu saja membuatnya merasa tertekan, marah, benci, terluka, sakit hati sekaligus sedih, persis seperti yang dialami oleh Nagita.


Hipnoterapi solusi menantu vs mertua
Source: brilio.net. Foto hanya untuk ilustrasi.  

Dan bisa jadi Pikiran Bawah Sadarnya tanpa sadar memaknai kejadian itu menjadi suatu program di Pikiran Bawah Sadarnya TANPA ia sadari. Bisa jadi program yang ia masukkan adalah “oo…jadi begitu toh kalo jadi mertua. Boleh seenak-enaknya dengan menantu dan jadi menantu harus diam menerima saja.” Apalagi di budaya kita orang Indonesia umumnya punya etika sopan santun yang diturunkan dari generasi ke generasi misalnya “sama orang yang lebih tua harus sopan. Kalau orang tua ngomong, anak diam saja. Kalau membalas omongan orang tua artinya anak kurang ajar dan tidak sopan”, dsj.

Sebenarnya sah-sah saja punya etika sopan santun yang demikian, hanya saja yang sering terjadi di lapangan adalah orang yang lebih tua (termasuk orang tua dan mertua), belum tentu lebih benar dan selalu benar. Seringkali kurangnya ilmu pengetahuan yang dimiliki menjadikan usia dengan kebijaksanaan dan pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang tidak berbanding lurus dengan usianya.

Apakah anda pernah mendengar, mengetahui, mengenal ataupun menemukan orang yang secara usia jauh lebih tua dari kita NAMUN secara sifat, kelakuan, dan pola pikirnya jauh lebih kekanak-kanakan dari kita. Namun orang itu selalu ngotot ia lebih benar HANYA KARNA ia lebih tua dari kita atau orang itu orang tua ataupun mertua kita. Ini pula yang seringkali akhirnya menjadi akar masalah yang berbuntut panjang dan berakhir di ruang terapi saya.

Meskipun agak tabu untuk dikatakan namun sudah merupakan rahasia umum bahwa terlepas dari sang orang tua ataupun mertua sebenarnya mungkin TIDAK ADA maksud buruk apapun. Namun FAKTANYA seringkali banyak anak dan menantu yang merasa sakit hati serta mengalami luka batin oleh perlakuan yang tidak semestinya dari orang tua dan juga mertua mereka.

Sekarang marilah kita luangkan waktu sejenak dan merenungkan kejadian nyata ini. Saat dulu masih berstatus sebagai menantu, mertua Nagita pernah merasa ditekan dan diperlakukan semena-mena oleh mertua perempuannya. Hal ini menjadikannya sakit hati bahkan hingga berpuluh-puluh tahun kemudian saat ia sudah naik tingkat dari status menantu naik tingkat sebagai mertua.

Tahu dari mana ia masih sakit hati? Gampang! Saat ia bercerita dulu waktu jadi menantu….bla…bla…bla... dan kita bisa melihat raut mukanya masih marah, kesal, benci, sedih atau sejenisnya, artinya secara batin orang itu masih terluka dan sakit hati. Bahkan meskipun di mulut ia mengatakan telah memaafkan dan tidak mau mengambil hati, tidak mau ingat-ingat, ataupun tidak mau memikirkan perbuatan mertuanya jaman dulu. Namun jika hatinya masih tetap merasa tidak nyaman, bahasa tubuhnya menunjukkan ia masih kesal, itu artinya ia belum benar-benar memaafkan, luka batinnya masih ada bahkan seiring waktu semakin dalam, dan hati tidak pernah bohong.

Kini, sekian puluh tahun kemudian ia telah menjadi mertua dan memiliki menantu bernama Nagita. Tanpa sadar, ia ternyata memperlakukan Nagita PERSIS SEPERTI mertuanya memperlakukan ia dulu. Semena-mena, sering dimarahi, dibentak, dituduh, dibanding-bandingkan, dijelek-jelekkan, selalu salah, tidak berhak membela diri, dsb.

Kembali ke kasus Nagita. Setelah sekian tahun mendapatkan perlakuan buruk dari mertuanya, Nagita pun merasa sudah tidak sanggup lagi. Hal ini menyebabkan Nagita kemudian berubah menjadi sensitive, emosian, gampang marah, dan kerapkali melampiaskannya ke orang yang lebih lemah (baca: bisa dijadikan pelampiasan). Dalam hal ini adalah suami Nagita (anak si mertua) dan bahkan anak Nagita (cucu si mertua).

Dan jika hal ini dilanjutkan terus menerus maka besar kemungkinan akan terjadi kejadian yang berulang dimana puluhan tahun yang akan datang saat Nagita menjadi mertua. TANPA SADAR ia akan memperlakukan mantunya PERSIS SEPERTI dulu ia diperlakukan oleh mertuanya. Jika sudah seperti ini  bukankah ini namanya “lingkaran setan”? Bedanya dulu korban sekarang pelaku, betul?

Hal ini akan terus berlanjut hingga kita memutuskan untuk membreak cycle atau “lingkaran setan” ini. Sayangnya kebanyakan dari kita tidak tahu caranya untuk membreak cycle ini. Salah satu cara yang jelas terbukti efektif untuk membreak “lingkaran setan” ini adalah hipnoterapi. Untuk mengetahui apa Hipnoterapi yang sesungguhnya bisa klik disini.

Karna hipnoterapi mencari akar masalah dan mencabutnya hingga ke akar. Sehingga saat ada luka batin, hipnoterapi lebih dari sekedar menyembuhkan luka batin. Hipnoterapi bahkan mampu membuat klien mengambil hikmah dan pembelajaran dari kejadian itu. Dan di saat luka batin itu telah sembuh, maka cycle atau "lingkaran setan" itu juga otomatis akan berhenti, STOP sampai disini. 

Kenapa? Karna klien yang telah sembuh luka batinnya akan mampu menghadapi situasi dan kondisi yang sama dengan respon yang berbeda. Maksudnya jika sebelum diterapi klien mengingat-ingat saat dibentak mertua, klien merasa sakit hati maka setelah diterapi klien akan netral dan baik-baik saja.

Singkat cerita, setelah diberikan penjelasan mengenai apa itu hipnoterapi yang sesungguhnya, Nagita bersedia diterapi atas keinginannya sendiri. Hal ini penting karna syarat utama seseorang bisa dihipnoterapi adalah adanya keinginan dari dalam dirinya sendiri untuk bersedia diterapi. Untuk lebih jelasnya mengenai proses terapi ini bisa klik disini. Pada kasus Nagita karna pada akhirnya yang tertindas adalah suami, maka pada awalnya yang berusaha mencari solusi dan informasi adalah suami karna menyangkut kepentingan suami.

Hanya setelah mendapatkan sesi konseling dan edukasi mengenai apa itu hipnoterapi yang sesungguhnya, Nagita akhirnya memutuskan untuk bersedia diterapi secepatnya. Saat konseling Nagita sempat bertanya “bu, apakah ini artinya saat saya merasa tertekan oleh perlakuan mertua dan saya tanpa sadar membalasnya ke suami… apakah ini artinya suami saya… juga merasakan rasa sakit hati dan merasa tertekan seperti yang selama ini saya rasakan…?” Nagita bertanya pelan-pelan dengan hati-hati dan suara lirih.

“Iya” adalah jawaban saya. Karna meskipun sepuluh orang berbeda jika dihadapkan oleh satu situasi yang sama bisa merespon dengan cara yang berbeda namun tetap saja orang yang diperlakukan tidak adil dan ditekan seperti itu pada umumnya pasti merasa sakit hati serta tertekan. Dan itu NORMAL.

Mendengar jawaban saya, langsung meledaklah tangis Nagita karna bagaimanapun ia sangat sayang suami dan juga anaknya. Ia sebenarnya tidak ingin melakukan hal itu (baca: marah dan emosi) namun tidak bisa. Semua orang yang pernah dan masih memiliki problem emosi dan gampang marah pasti tahu persis bahwa sebenarnya jika ditanya pasti kita jawab, “kita sebenarnya tidak mau marah. Tapi nggak bisa….nggak tahan kalo kaga marah…. abis….(bla bla bla)”. Itu adalah salah satu ciri-ciri orang yang terluka batinnya dan karenanya butuh untuk disembuhkan dengan hipnoterapi.

Singkat cerita di dalam terapi ditemukan ada beberapa kejadian yang membuat Nagita merasa tertekan dan sakit hati dengan mertuanya. Dan ternyata ditemukan akar masalahnya adalah pada waktu ia berusia 27 tahun (Nagita kini berusia 32 tahun). Saat ia mau menikah, dalam posisi habis pingsan ia disuruh oleh adik calon mertuanya untuk membersihkan sendiri lantai yang sangat kotor, yang tidak mungkin bisa dibersihkannya seorang diri apalagi dengan kondisinya saat itu yang masih lemah karna baru bangun sehabis pingsan.


Hipnoterapi solusi menantu vs mertua
Source: brilio.net. Foto hanya untuk ilustrasi. 
Iyaa…. Jadi temuan saya di ruang terapi memang seperti itu. Seringkali saat seseorang merasa sakit hati, marah, terluka, tertekan, dendam, menyesal, kesepian, sedih, benci, dsj dengan si A, faktanya seringkali ditemukan akar masalahnya bukan si A tapi si C. Kenapa bisa seperti itu? Karena seringkali orang yang bersangkutan (dalam hal ini Nagita) tidak tahu atau tidak ingat akar masalah yang sesungguhnya. 

Untungnya Pikiran Bawah Sadarnya pasti ingat karna salah satu fungsi dari pikiran bawah sadar adalah Long Term Memory. Maksudnya setiap detik kejadian di dalam hidup kita ternyata terekam di Pikiran Bawah Sadar kita persis seperti camcorder. Hal ini yang menyebabkan apapun akar masalah kita, Pikiran Bawah Sadar kita pasti ingat.

Kejadian-kejadian itu juga diperkuat dengan beberapa kejadian lain yang serupa tapi tak sama diantaranya Nagita dimarahi dan dituduh tidak menutup sayur di atas meja. Padahal jelas-jelas yang lupa menutup adalah anak perempuan mertua namun mertuanya tidak berani memarahi anak perempuannya karna anak perempuannya galak. Jadi kalo dimarahi, anak perempuannya akan balas memarahi. Dan sesuai hukum rimba yang kuat yang berkuasa, jadilah Nagita sebagai yang dianggap lemah, dijadikan pelampiasan kekesalan mertuanya terhadap anak perempuannya.

Lalu ada juga kejadian dimana saat hujan ia dituduh mengambil payung mertuanya padahal ia sama sekali tidak mengambil. Dan ditambah kejadian saat ia lagi merawat anaknya yang sakit ia dibentak disuruh turun dari lantai 3 ke lantai 1 untuk mengambil gas ataupun menyuruh orang ambil gas.

Bagi sebagian dari kita mungkin merasa hal tersebut tampak sepele, namun tidak demikian hal nya bagi Nagita. Karna hal yang tampak sepele bagi kita belum tentu sepele bagi orang lain, begitupun sebaliknya. Hal yang tampak sepele bagi orang lain bisa jadi merupakan hal yang besar dan traumatic bagi kita. 

Karna temuan saya di ruang terapi membuktikan TIDAK BUTUH akar masalah yang besar untuk menjadi masalah besar. Seringkali banyak masalah besar yang disebabkan oleh akar masalah yang simple dan tampak sepele serta banyak terjadi di dalam keseharian kita sehingga seringkali dianggap biasa saja. Namun hal seperti itu ternyata adalah bibit, dan seperti yang kita semua tahu bibit bisa menjadi besar dan kita tidak tahu bibit itu bisa menjadi sebesar apa. Untuk mengetahui contoh kasus lain yang berawal dari kejadian yang sekilas dianggap sepele namun berbuntut panjang bisa klik disini.

Seusai proses terapi Nagita mengaku sudah bisa memaafkan mertuanya dan kali ini ia benar-benar sudah bisa memaafkan mertuanya. Terbukti saat mengingat-ingat mertuanya ia telah merasa baik-baik saja. Sudah tidak ada lagi rasa marah, terluka, dendam, sakit hati, menyesal, kesepian, sedih dan dikucilkan, tertekan, tidak enak dan tidak nyaman di dalam hatinya. Sebaliknya ia langsung sudah bisa tertawa lepas, kembali bahagia serta berwajah ceria seperti dulu. Ia kini sudah bisa merasakan hatinya kembali lega, plong dan nyaman sekali.

Tak ada cara yang lebih efektif untuk menguji keberhasilan hasil terapi Nagita selain memulangkan Nagita untuk kembali menghadapi mertuanya secara langsung. Toh mereka masih tinggal bersama, setiap hari bertemu, sepanjang hari ketemu, buka pintu kamar saja sudah bertemu.

Saat pulang, Nagita memberi kabar kepada saya bahwa ia sudah merasa baik-baik saja saat berhubungan dengan mertuanya. Dan bahkan saat mertuanya membanding-bandingkan cucu dari Nagita dengan cucu dari anak perempuannya dengan mengatakan anak Nagita jahat, beda dengan cucu dari anak perempuannya yang baik dan penurut. 

Berbeda dari biasanya, menghadapi hal seperti itu Nagita tetap baik-baik saja. Dan tentu saja Nagita sudah saya bekali pengetahuan untuk membantu anaknya menghadapi program-program buruk yang dilontarkan oleh mertua perempuannya tanpa sadar.

Nagita bahkan bisa mengerti bahwa sebenarnya tidak ada maksud jahat saat mertuanya mengatakan hal buruk seperti itu kepada anaknya. Hanya saja KURANGNYA PENGETAHUAN dan luka batin, seringkali menjadikan orang tua termasuk mertua yang harusnya memberikan program baik kepada anak-anak dan cucu mereka, seringkali mengulangi kesalahan klasik orang tua mereka dengan membanding-bandingkan anak dan cucu mereka. Yang tanpa mereka sadari hal itu bisa menjadi akar masalah di kemudian hari. Baca artikel saya yang berikutnya dimana seorang ibu muda menjadi pemarah hanya karna waktu kecil sering dibanding-bandingkan oleh orang tuanya.

Nagita bahkan sudah bersedia menemani mertuanya malam-malam jalan berdua ke pasar untuk membantu mengurusi berbagai keperluan acara keluarga mertuanya. Beberapa hari setelah terapi Nagita juga memberi kabar bahwa kini, setelah luka batin di hatinya sembuh dan sikapnya membaik serta jauh berubah, entah mengapa sikap mertuanya kepada dirinya juga jauh membaik. Mertuanya berhenti marah-marah, sudah menyapanya dengan sikap baik dan menawarkan makan (sebelum terapi tidak pernah). Singkat cerita akhirnya damai dan bahagia kembali datang di kehidupan Nagita.

Di akhir kata saya ingin mengatakan, kita tidak bisa mengubah orang lain, namun kita bisa mengubah diri kita sendiri dan lihatlah betapa dengan kita berubah maka orang lain juga ikut berubah.

Dibawah ini adalah testimoni dari Nagita yang telah berbaik hati memberikan ijin untuk berbagi kisah ini untuk menginspirasi banyak menantu dan mertua bahwa mereka bisa kok hidup berdampingan dan tetap rukun serta bahagia.



Hipnoterapi solusi menantu vs mertua
Testimoni dari Nagita setelah di hipnoterapi


#sayaterapisyangbahagia

Notes:
Seandai semua mertua menyadari semua tekanan dan perlakuan buruk mereka kepada menantu HANYA akan diteruskan kepada anak dan juga cucu mereka… Apakah para mertua ini masih akan melakukan hal yang sama?

Jika semua mertua mengaku mereka sebenarnya sama sekali tidak ada maksud jahat apapun kepada menantunya, namun faktanya TANPA SADAR mereka masih saja memperlakukan menantunya dengan buruk persis seperti ia dulu diperlakukan oleh mertuanya. Apakah mereka tetap akan tetap meneruskan luka batin ini? Ataukah mereka lebih memilih untuk sembuh?

Mertua yang bersikap buruk terhadap menantunya adalah ex menantu yang memiliki luka batin terhadap mertuanya terdahulu dan SOLUSINYA ia butuh untuk disembuhkan dengan hipnoterapi.

Mertua yang bersikap buruk terhadap menantunya adalah mertua yang mewariskan luka batinnya kepada menantunya. Dan hampir pasti biasanya tanpa sadar luka batin itu akan diteruskan oleh menantunya ke suaminya (anak mertua) dan anak-anaknya (cucu-cucu dari mertua itu sendiri).

Menantu yang masih memiliki rasa kesal, marah, benci, terluka, sakit hati, dsj oleh mertuanya adalah menantu yang terluka batinnya dan SOLUSINYA ia butuh untuk disembuhkan dengan hipnoterapi agar ia bisa melanjutkan hidupnya dengan damai, dan bahagia. Jadi saat kita "terluka", kita butuh menyembuhkan diri kita sendiri, demi untuk kebaikan diri kita sendiri, bukan untuk orang lain.

Mertua dan menantu yang bijak adalah mereka yang berpikiran terbuka, rendah hati, bisa menerima kenyataan, mau mengampuni dan memilih untuk memutuskan “lingkaran setan” ini dengan cara menyembuhkan luka batinnya untuk memulai lingkaran hidup yang baru, yang rukun dan bahagia.

Wahai mertua, baik-baiklah dengan menantumu…
Karna nasib anak dan cucu-cucumu, ada di tangan menantumu…

Ingatlah, kunci keluarga yang bahagia ada di tangan ibu yang bahagia…

Sungguh bersyukur kini ada pengetahuan akan Hipnoterapi sehingga ada solusi untuk menantu dan mertua yang awalnya kurang rukun, sehingga bisa rukun, damai dan lebih bahagia. 


#imelyoung
#imelhipnoterapis
#hipnoterapiskeluarga
#sayaAWGI

Jumat, 17 November 2017

Quantum Slimming for Therapist

Senangnya pada tanggal 3-5 November 2017 kemarin saya berkesempatan untuk mengikuti sertifikasi khusus untuk menjadi Terapis di bidang Slimming yang lebih dikenal dengan nama Quantum Slimming for Therapist di Adi W. Gunawan Institute, Surabaya. 

Pelatihan yang hanya bisa diikuti oleh Certified Therapist 100 jam dari Adi W. Gunawan Institute ini khusus belajar lebih dalam mengenai Slimming. Lebih dari sekedar metode pelangsingan biasa yang hanya berfokus kepada diet yang ketat dan menjaga pola makan, Quantum Slimming mencari akar masalah yang menyebabkan seseorang bisa mengalami kegemukan. Jadi Quantum Slimming tidak hanya mengatasi kegemukannya namun juga memberantas kegemukan hingga ke akarnya.

Kini, lebih dari sekedar Profesional Certified Hypnotherapist dan Certified Trainer, saya juga memegang license sebagai Quantum Slimming Therapist. 

Imel Young Quantum Slimming Terapis Hypnoslimming
Imel Young, C.Ht., C.T as Quantum Slimming Therapist

Imel Young Quantum Slimming Terapis Hypnoslimming
Imel Young, C.Ht., C.T as Quantum Slimming Therapist with Kristin Liu, CCH

Imel Young Quantum Slimming Terapis Hypnoslimming
Imel Young, C.Ht., C.T with Kristin Liu, CCH, founder of Quantum Slimming

"Bersama Quantum Slimming, semoga kegemukan yang melanda negeri ini hanya tinggal sejarah"

Quote by Kristin Liu, CCH

Imel Young Quantum Slimming Terapis Hypnoslimming
Imel Young, C.Ht., C.T as Quantum Slimming Therapist @ Adi W. Gunawan Institute



#ImelYoung
#ImelHipnoterapis
#QuantumSlimming
#QuantumSlimmingTherapist
#SayaAWGI


Kamis, 26 Oktober 2017

SEMINAR SEHARI @ JAKARTA, 2 DESEMBER 2017

Kesempatan Emas untuk yang di Jakarta. Datang dan dapatkanlah banyak manfaat yang berguna dari seminar yang sangat bermanfaat ini, langsung dari pakarnya! Be a better person... Be a better parent...
SEMINAR SEHARI 2 DESEMBER 2017 SESI 1 : SMART PARENTING Menjadi orang tua yang cerdas dalam mendampingi anak bertumbuh dan berkembang, serta mampu membangun fondasi sukses masa depan anak. Jam : 09.00 – 12.00 SESI 2 : SUKSES DENGAN KEKUATAN PIKIRAN Memahami cara kerja dan kekuatan pikiran untuk meraih sukses dalam aspek-aspek kehidupan yang Anda inginkan. Jam : 13.30 – 16.30 Narasumber: DR. ADI W. GUNAWAN, CCH. Indonesia’s Leading Expert in Mind Technology Ketua Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology (AWGI) Ketua Asosiasi Hipnoterapi Klinis Indonesia (AHKI) Tempat Seminar: GEDUNG KOMPAS GRAMEDIA Lantai 7, Jl. Palmerah Barat 29-33 Jakarta Pusat HTM: 1 SESI PILIHAN : IDR 100.000 2 SESI TERUSAN : IDR 150.000 INFORMASI DAN PEMBELIAN TIKET (Tempat Terbatas) Widya Saraswaty, CCH. (0816717409) Rony Kustendro, C.Ht. (08118798989) Emilia Iskandar, C.Ht. (081399066788) Yulianti Wijoyo, C.Ht. (081281999788) Yoshiko Sinaga, C.Ht. (08121032315) Meity, C.Ht. (08118877771) Pembayaran Tiket: BCA a/n Yoshiko Sinaga Nomor Rekening 4988010373 HARAP HADIR TEPAT WAKTU REGISTRASI ULANG 30 MENIT SEBELUM SESI

Adi W Gunawan - Imel Young - Parenting


Rabu, 06 September 2017

Anak adalah Cerminan Orang Tua

Sangatlah mudah mengecek kehidupan kita yang sebenarnya...

Jika Anda merasa Anak Anda bermasalah, coba Anda cek apakah selama masa kehamilan sampai sekarang, Anda sebagai orang tua terutama ibu memiliki masalah? Jika iya, maka solusinya Anda sebagai orang tua, terutama ibu yang harus terlebih dahulu diterapi guna diselesaikan masalahnya.

Karna Anak adalah Cerminan Orang Tua. Cara terbaik untuk melihat kehidupan kita sendiri sebagai Orang Tua adalah dengan melihat anak-anak kita. Entah anak kita tertekan, bermasalah, ataupun bahagia, seperti itu pula kehidupan kita sebagai orang tua yang sebenarnya...


Notes: Special thanks for Papapreneur for the nice Quote desain.

Papapreneur, menginspirasi orang tua terutama papa agar lebih dekat, lebih sayang anak, lebih bahagia, lebih kaya raya dan tentunya lebih banyak waktu untuk anak serta keluarga.

Let's be a better parrent...

Imel Young Terapis Anak dan Keluarga
Imel Young Terapis Anak dan Keluarga


Imel Young
Praktisi Terapis Anak dan Keluarga


#imelyoung
#papapreneur

Selasa, 05 September 2017

Neo Zen Reiki @Anand Ashram

Suasana sesaat setelah mengikuti Neo Zen Reiki @Anand Ashram, founded by Anand Krishna, Centre for Holistic Health & Meditation.

Neo Zen Reiki merupakan salah satu tehnik kuno dari Pegunungan Himalaya yang berfungsi untuk memperbaiki pola energi Anda agar selaras dengan energi alam.

#neverendinglearning...
#imelyoung



Neo Zen Reiki Anand Ashram Anand Krishna
Neo Zen Reiki @Anand Ashram, founded by Anand Krishna
 

Sabtu, 29 Juli 2017

Bedah Buku Miracles on Demand @gramedia Supermall Karawaci😊

Thanks yaa teman-teman yang telah menyempatkan hadir di acara bedah buku Miracles on Demand tanggal 29 Juli 2017 @gramedia Supermall Karawaci.

Terimakasih juga Gramedia Supermall Karawaci yang telah menyelenggarakan acaranya dengan professional.

Untuk teman-teman yg belum sempat hadir, ditunggu yaa kedatangannya di event Adi W. Gunawan Institute yang berikutnya...

Miracles on Demand
Bedah Buku Miracles on Demand

Miracles on Demand Imel Young
Imel Young @Bedah Buku Miracles on Demand

Miracles on Demand Adi W Gunawan
Imel Young @Bedah Buku Miracles on Demand by Gramedia


 

Kamis, 27 Juli 2017

Bedah buku "Miracles on Demand" @Supermall Karawaci

FREE INVITATION…

Bedah buku "Miracles on Demand" @Supermall Karawaci Tangerang

Setelah sukses diselenggarakan di Jakarta, Malang, dan Semarang, kini Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology kembali menyelenggarakan bedah buku “Miracles on Demand” di TANGERANG.

Materi yang dibahas:
- Manfaat Hipnoterapi untuk kehidupan sehari-hari
- Emosi negative dan efek negative yang ditimbulkan
- Stress dan pengaruhnya terhadap tubuh dan kesehatan
- Penyakit psikosomatis dan penanganan yang tepat
- Kekuatan menyembuhkan dari Forgiveness

Tanggal : Sabtu, 29 Juli 2017
Pukul : 14.30 - selesai
Lokasi : Pameran Gramedia
@Supermall Lippo Karawaci Lantai 2. Jalan Bulevard Diponegoro No.105, Kelapa Dua, Tangerang, Banten 15810.
TEMPAT TERBATAS!!

Pembicara : Imel Young, S.E., C.Ht., CT. (member of Adi W. Gunawan Institute)
Miracles on Demand
Bedah Buku Miracles on Demand @Gramedia Supermall Karawaci
Ini adalah seminar berdasar judul buku laris National Best Seller "Miracles on Demand" terbitan Gramedia Pustaka Utama. Seminar ini bertujuan untuk edukasi dan pemberdayaan publik.

Untuk menghadiri seminar ini sangat mudah. Para Sahabat hanya perlu mendaftar dan datang langsung ke lokasi, FREE of charge!

Pendaftaran ke no: 0857 18800188 (WA/SMS)

Segera daftar! Tempat terbatas!!!

Nb: Tolong bantuannya untuk men-SHARE sekiranya ada yang membutuhkan. Thx!

Miracles on Demand
Miracles on Demand