Sabtu, 13 Agustus 2016

Susah Ngomong, Pendiam, Kurang Tegas, ataukah Traumatic?


Susah Ngomong, Pendiam,

Kurang Tegas, ataukah Traumatic?


Jika ada uneg-uneg atau hal yang ingin dibicarakan, sebaiknya memang langsung diungkapkan. Namun berapa banyak dari kita yang mampu melakukannya? Bagaimana bisa berkomunikasi dengan baik jika mau ngomong saja terasa susah seperti ada yang mem blok atau menghalangi, akibatnya jadi tidak bisa bicara secara terbuka dan kurang tegas. Pada akhirnya orang yang berada pada kondisi demikian banyak yang memilih untuk menahan diri atau diam saja, namun orang lain yang tidak mengerti menganggapnya pendiam, padahal sebenarnya banyak sekali yang ingin dibicarakan tapi susah atau tidak bisa dikeluarkan.
 
 
Sebagai seorang manusia sekaligus mahluk social, tentunya kita menyadari pentingnya komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Baik di dalam pekerjaan, kehidupan pribadi, atapun kehidupan social, semuanya butuh komunikasi. Tanpa komunikasi yang baik, tentunya hubungan yang baik dan hangat hanya tinggal angan-angan. Tanpa komunikasi yang lancar, jangan harap naik jabatan bisa lancar pula. Tanpa komunikasi yang efektif, lupakanlah tentang mendapatkan klien yang potensial. Tanpa komunikasi yang baik dan lancar, jangan harap keluarga Anda bisa harmonis.

Coba diingat-ingat, berapa banyak Rumah Tangga yang hancur tercerai berai hanya karena kurang komunikasi ataupun komunikasi yang buruk. Tak terhitung pula betapa banyaknya anak-anak dan remaja yang tersesat di dalam pergaulannya, hanya karena kurangnya komunikasi yang baik terhadap orang tua ataupun keluarganya. Berapa banyak karyawan yang mengeluh telah bekerja keras namun tak kunjung naik jabatan/lama sekali baru bisa naik jabatan/naik gaji. Atau banyaknya para pebisnis yang merasakan susahnya mendapatkan customer. Sekali lagi ini soal komunikasi.

Komunikasi yang baik dan lancar tentunya berbanding lurus dengan hubungan yang baik dan hangat, baik itu di dalam hubungan internal keluarga ataupun terhadap teman, lingkungan, dan rekan-rekan kerja. Komunikasi yang baik dan lancar, membuat segala yang sulit menjadi lebih mudah. Sebaliknya komunikasi yang buruk dan terhambat, otomatis membuat segala yang mudah menjadi tampak begitu sulit.

 
Jangan pernah remehkan komunikasi. Saat komunikasi berjalan dengan mudah, lancar dan menyenangkan, rasakan perbedaan di dalam kehidupan sehari-hari. Keluarga yang dingin menjadi hangat. Teman yang asing bisa lebih akrab daripada saudara. Rekan kerja yang kurang friendly pun bisa berubah menjadi seperti sahabat karib. Atasan yang sangar pun bisa berubah memperlakukan kita seperti keluarga. Bahkan hubungan asmara yang telah terasa hambar pun bisa kembali membara. Sekali lagi kuncinya ada di komunikasi.

Pernahkah Anda kenal seseorang yang sekilas tampak biasa saja. Wajah biasa saja, prestasi biasa saja tak ada yang membanggakan, background keluarga pun biasa-biasa saja, tak ada yang istimewa. Tapi karena komunikasinya yang baik, lancar, dan menyenangkan, banyak orang menyukainya. Semua orang termasuk kita merasa senang jika berada di dekatnya. Itu sebabnya temannya banyak berlimpah dimana-mana. Urusan bisnis ataupun naik jabatan, termasuk urusan asmara pun menjadi jauh lebih mudah dan lancar.

Atau pernahkah Anda kenal seseorang yang wajahnya jelas lebih menarik dari orang pertama. Prestasi segudang, background keluarganya pun lebih baik dari yang pertama. Namun karena komunikasinya yang buruk ataupun tidak lancar, orang-orang, mungkin termasuk kita, jangankan untuk suka, akrab, menjalin hubungan bisnis ataupun asmara. Bergaul biasa saja pun kita enggan atau terasa malas. Kok bisa begitu? Sekali lagi yang membedakan hanyalah komunikasi.

Pentingnya komunikasi yang lancar, baik, dan menyenangkan juga dirasakan betul oleh salah seorang klien saya sebut saja namanya James (bukan nama sebenarnya), seorang pria usia 48 tahun yang berasal dari pulau Bangka.  James datang kepada saya dengan keluhan susah ngomong, kurang tegas, pendiam, serta tidak bisa berbicara secara terbuka kepada atasan, bawahan, teman, relasi, keluarga, dan terhadap setiap orang. James mengaku dirinya yang sekarang  lebih banyak menahan diri karena mau mengeluarkan sesuatu/berkata-kata itu susah, kaya ada sesuatu yang nge blok di dada, membuatnya merasa capek/lelah di dalam dirinya.

 
Sebagai seorang yang bekerja di bisnis perhotelan dengan jabatan yang lumayan tinggi, tentu saja memaksanya untuk sering berkomunikasi dan meeting dengan orang lain baik itu atasan, bawahan, ataupun klien-kliennya. Namun entah mengapa meskipun sebenarnya di dalam hati James memiliki banyak hal dan kata-kata yang ingin diungkapkan, tapi hampir semua tak bisa dikeluarkan oleh James. Sekeras apapun ia berusaha, semakin semua yang ingin diungkapkannya itu tersimpan rapat di hatinya, membuat di dadanya terasa seperti ada gumpalan/ganjelan besar yang kian hari kian membesar, membuatnya terasa semakin mengganjal, dan tentunya semakin sesak di dada.

Hal ini tentu saja sangat menganggu kehidupan, pikiran dan juga pekerjaan James. Betapa tidak, setiap kali bawahannya melakukan kesalahan ia tidak kuasa untuk menegurnya. Contoh: James memberikan tugas kepada bawahannya namun ternyata tidak dikerjakan. Seharusnya James menegur bawahannya, tapi karena James tidak bisa berbicara secara terbuka, ia pun memilih untuk menahan diri dan diam saja.

Hal yang sama juga terjadi saat James berinteraksi dengan atasannya. James mengaku meskipun ia memiliki banyak ide-ide bagus tapi saat mau di ungkapkan, rasanya seperti ada sesuatu yang nge blok di dada. Dan lagi-lagi James memilih untuk menahan diri dan diam saja. Hal ini tentunya sangat berimbas kepada hasil kerja dan juga prestasinya.

 
Bosan akan masalahnya yang puluhan tahun itu-itu saja namun tak kunjung selesai malah semakin parah, James akhirnya memutuskan untuk meminta bantuan hipnoterapis profesional. Atas rekomendasi saudaranya yang telah terlebih dahulu menjalani terapi bersama saya dan mendapatkan kesembuhan, James akhirnya datang menemui saya.

Sebenarnya saudaranya mempromosikan saya untuk menyembuhkan problem James yang lain namun sesampainya di ruang terapi ternyata masalah inilah yang sebenarnya paling mengganggu dan dirasa paling penting bagi James dan oleh karenanya paling penting untuk diselesaikan terlebih dahulu.

Berbekal asas keinginan klien adalah yang utama. Tentu saja yang saya proses adalah problem yang diajukan oleh klien, meskipun problem ini ternyata jauh berbeda/sangat tidak nyambung dengan problem yang sebenarnya dipesankan saudaranya James untuk disembuhkan. Memang akhirnya James mengungkapkan bahwa problem ini sudah puluhan tahun ia simpan sendiri. Bahkan keluarga termasuk ayah, ibu, ataupun kakak dan adik-adiknya tidak ada yang mengetahui masalahnya ini. Bisa dibayangkan betapa besar beban yang sesungguhnya dirasakan James setiap saat terutama setiap malam akibat menyimpan masalah ini selama puluhan tahun hidupnya.
 
Di ruang terapi James mengaku ia tidak hanya memiliki memiliki kesulitan berbicara secara terbuka kepada atasan ataupun bawahan, namun juga kepada teman-teman, saudara, serta keluarganya. James yang dulunya mengaku memiliki banyak teman kini hanya memiliki sedikit teman yang tersisa. Bahkan saat James memiliki masalah/kesulitan, tidak ada satu orang pun dikeluarganya yang tahu karena James yang sekarang mengaku lebih banyak menahan diri, tidak banyak ngomong. Singkat kata ia lebih memilih untuk diam saja, karena mau ngomong susah, mau mengeluarkan sesuatu/berkata-kata itu susah, kaya ada sesuatu yang nge blok di dada.  

Puluhan tahun memiliki masalah dalam berkomunikasi membuatnya sadar betul betapa hal tersebut sangat menghambat kualitas hidup dan kariernya. Oleh karenanya ia sangat ingin bisa lebih berani terbuka berbicara kepada atasan ataupun siapa saja, seperti dulu saat kecil. James menyadari sebagai orang yang susah berinteraksi dengan orang lain tentu saja sulit untuk bisa meraih sukses yang lebih tinggi lagi. “bagaimana bisa cepat naik pangkat jika disuruh memimpin meeting saja saya sering menghindar” ujar James.

Terlebih lagi hal itu juga ternyata terbawa di dalam pikirannya setiap saat terutama di waktu malam membuat di dalam dirinya menjadi tidak tenang. “kaya ada sesuatu yang nge blok di dada. Ingin ditumpahin tapi tidak bisa. Kaya ada yang nge blok/nahan di dalam diri” ungkap James. Penyesalan-penyesalan akan kata-kata yang semestinya ia ucapkan tadi siang namun tidak ia ucapkan, ternyata membuatnya menyesal. Dadanya terasa sesak dan tertekan seperti ada gumpalan besar. Namun ia tak tahu bagaimana cara untuk menyelesaikan masalahnya. Hal ini tentu saja mengganggu tidurnya dan membuat kualitas tidurnya menjadi buruk. “Mana bisa tidur?! kalaupun akhirnya tertidur juga tidak bisa nyenyak karena banyak pikiran!” keluh James.

 
Memang seperti itulah cara kerja pikiran bawah sadar. Jika Anda memiliki masalah, maka sebenarnya pikiran bawah sadar itu akan berusaha untuk memberitahukan kepada Anda dengan segala macam cara. Karena Pikiran Bawah Sadar  (PBS) itu sangat sadar penting nya untuk menyelesaikan masalah yang ada secepat mungkin, namun sayangnya Pikiran Bawah Sadar bukanlah problem solver. PBS tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.

Itu sebabnya PBS hanya sibuk “membunyikan alarm” di dalam tubuh Anda yang bisa Anda rasakan dalam bentuk perasaan (feeling), pikiran (tiba-tiba kepikiran), firasat, ataupun sensasi fisik seperti sakit di tubuh fisik Anda seperti sakit kepala, leher/pundak/punggung kaku, kram, asam lambung berlebih, tangan kaki dingin/kaku/bengkak, termasuk rasa tidak enak atau tidak nyaman yang Anda rasakan di dada/hati Anda, yang jika didiamkan maka semakin hari akan terasa seperti ada tekanan/ganjalan di dada yang semakin hari terasa semakin sesak dan membuat hati dan pikiran menjadi semakin tidak tenang/tidak nyaman.

James mengaku ia sudah lelah hidup terkungkung seperti ini. Ia ingin bisa kembali seperti dulu, bisa bicara bebas dan lepas kepada semua orang. James mengaku saat kecil ia tidak seperti ini. Ia orang yang ceria, punya banyak teman dan tentunya bisa berbicara bebas dan lepas seperti orang-orang pada umumnya.

Setelah jelas dengan masalah yang ingin disembuhkan oleh James, sayapun memberikan penjelasan mengenai apa itu Hipnoterapi yang sesungguhnya. Berbeda dengan kebanyakan orang yang masih seringkali menyamakan hipnoterapi dengan yang biasa mereka lihat di acara TV,  James mengetahui bahwa Hipnoterapi ini adalah terapi untuk penyembuhan yang sangat berbeda dengan yang biasa kita lihat di TV. Karena sebenarnya memang hipnoterapi ini dilakukan secara sadar namun pada kondisi yang sangat rilex (istilahnya: PBS=Pikiran Bawah Sadar). Untuk mengetahui apa itu PBS yang sesungguhnya bisa klik disini dan untuk menjawab pertanyaan yang sering ditanyakan bisa pula klik disini.

Setelah James menjadi jelas mengenai apa itu Hipnoterapi yang sebenarnya, saya lalu mulai membimbing James memasuki kondisi rilexasi yang dalam dan menyenangkan. Sangat mudah bagi James untuk bisa memasuki Pikiran Bawah Sadarnya karena niat yang tinggi bagi James untuk bisa benar-benar sembuh dan terlepas dari masalah ini. Sekali lagi, hipnoterapi merupakan self healing, dimana klien yang menyembuhkan dirinya sendiri, sedangkan terapis hanya membimbing klien agar bisa menyelesaikan sendiri masalahnya di Pikiran Bawah Sadarnya klien.

Di dalam proses terapi diketemukanlah akar permasalahan James yang sesungguhnya, yakni saat James berusia 11 tahun. Rupanya James kecil merasa sakit hati karena teman-temannya suka meledeknya. Berawal saat James lagi main di sekolah saat ia lagi ngumpul sama teman, ledek-ledekan. Kebetulan jaman itu jamannya film “Si Doel Anak Betawi” lagi hits-hits nya. Kemudian entah mengapa salah seorang temannya mulai meledek James, mengatakan wajah James jelek kaya Oplet nya “Si Doel Anak Betawi” , dan mulai mengganti nama James menjadi “Oplet” (padahal wajah sebenarnya lumayan ganteng). Yang parahnya, di jaman itu jika 1 orang teriak-teriak memanggil James “Oplet”, teman-teman James yang lain, yang sebenarnya tak tahu apa-apa, ikut-ikutan meledek James dan memanggilnya Oplet.

 
Rupanya kejadian itu membuat James kecil merasa malu, sebel, kesel, marah, rendah diri, dan berbagai rasa tidak enak/tidak nyaman lainnya. Hal yang sekilas tampak biasa saja karena becandaan seperti itu umum sekali kita temukan di kalangan anak kecil yang beranjak remaja seperti James. Ternyata tanpa disadari, tidak hanya membuat Bawah Sadar James sakit hati (traumatic) namun juga secara bertahap merubah James menjadi pendiam, bahkan hingga puluhan tahun kemudian (usia James kini 48 tahun). Kejadian yang sekilas tampak sepele dan tak berarti itulah ternyata akar masalahnya.

Di dalam proses terapi James kemudian dibimbing untuk bisa merelease/melepaskan semua rasa tidak nyaman yang berbentuk bagaikan gumpalan di hatinya, dengan mudah & menyenangkan. Tidak hanya itu, James juga dibimbing untuk bisa mengambil hikmah dari kejadian itu. Di akhir terapi, James mengaku tidak hanya hatinya merasa lega dan bisa ngomong, ia juga bisa belajar memaafkan orang, menerima kejadian dengan ikhlas/tidak dimasukkan ke hati, serta tidak gampang terpengaruh ataupun marah. Bahkan sesaat setelah James selesai terapi & membuka mata, ia mengaku kini dirinya merasa Happy, lega, berenergi, tenang, kalem pikirannya, dan ia telah berubah karena ganjalan-ganjalan di dalam didirnya kini telah hilang. Dadanya juga terasa enak, plong, dan lebih segar.

 
“Nggak sangka yaa, ternyata itu yang jadi akar permasalahannya. Saya ingat memang ada kejadian itu. Tapi saat itu rasanya biasa saja” ujar James. Ternyata hal yang bagi Pikiran Sadar James merupakan kejadian yang biasa saja dan tidak penting, dimaknai berbeda, mendalam, dan traumatic oleh Pikiran Bawah Sadar James. Pertanyaannya:  Jika kejadian kecil yang sekilas tampak tak berarti itu bisa memberikan efek yang begitu besar bagi kehidupan seseorang, apalagi kejadian yang jelas-jelas traumatic? Bagaimana menurut Anda?

 

Update terakhir:

Beberapa minggu setelah menjalani terapi James memberikan kabar bahwa kini dirinya sudah enak rasanya saat ngobrol sama boss ataupun bawahannya. Hati dan dadanya nya juga sudah merasa plong. Hambatannya dalam berkomunikasi sudah hilang, bicaranya juga sudah lancar. Komunikasi dengan rekan kerja/teman-temannya juga sudah jauh lebih baik. Yang biasanya ada ganjalan di dada sekarang sudah plong/lancar.



Testimoni Asli klien setelah 2 minggu terapi (identitas dirahasiakan)




 

Sebelum terapi, saat bawahan klien tidak melakukan tugas yang diperintahkan atau melakukan kesalahan, klien tidak berani menegur (kurang tegas). Setelah terapi jika ada bawahan yang tidak melakukan tugas yang diperintahkan atau melakukan kesalahan, klien sudah berani menegur (tegas dan baik-baik, seperti yang seharusnya dilakukan oleh atasan yang professional)

 
Testimoni Asli klien setelah 2 bulan terapi (identitas dirahasiakan)
 
 
Notes: Mengingat kode etik, semua identitas klien dirahasiakan demi kenyamanan klien 
 

0 komentar:

Posting Komentar