Kamis, 23 November 2017

Sakit Hati dengan Mertua, Solusinya Bagaimana?

Sakit Hati dengan Mertua, Solusinya Bagaimana?


"Saya sakit hati dengan mertua saya. Setiap kali saya teringat saat ia membentak saya bertahun-tahun yang lalu, saya rasanya mau marah dan masih kesal! Hati saya rasanya sakit setiap kali saya mengingat atau teringat-ingat kejadian itu. Hal itu membuat saya setiap kali melihat mukanya (mertua) saja sudah sebal dan mau marah!". Kurang lebih seperti itulah isi hati yang dilontarkan oleh klien saya beberapa waktu yang lalu saat datang ke ruang terapi.

Masalah mertua perempuan dengan menantu perempuan merupakan masalah klasik yang banyak kita temukan di sekitar kita sehari-hari. Sudah merupakan rahasia umum dimana banyak sekali mertua perempuan yang tidak bisa hidup akur dan rukun dengan menantu perempuannya. Bahkan sampai ada yang mengibaratkan drama menantu perempuan "versus" ibu mertua berlangsung lebih panjang dan lebih lama dari sinetron Tersanjung. Yang seingat saya sekuelnya tidak habis-habis mulai dari kelas 1 SMP hingga duduk di bangku kuliah. 

Dan konfliknya seringkali bisa menjadi begitu rumit hingga tak jarang menimbulkan keretakkan dan ketidakharmonisan dalam keluarga. Akhirnya bahkan sampai ada menantu yang memilih untuk kabur, hidup terpisah hingga bercerai karna tidak tahan dengan sikap dan kelakuan mertua (biasanya terjadi saat istri merasa suami lebih memilih ibu ketimbang istrinya). 

Ada banyak hal yang menyebabkan seorang menantu bisa begitu sakit hati dengan mertuanya, seperti: 


- Sering dimarahi/dibentak
- Sering dihina/menerima kata-kata kasar (terutama terjadi pada menantu yang secara status sosial/ekonomi nya berada dibawah mertua)
- Sering disuruh-suruh dan diperlakukan seakan merangkap pembantu (apalagi yang tidak punya pembantu atau pembantunya pulang hari)
- Sering dibanding-bandingkan
- Hilangnya kebebasan
- Segala hal sering diatur-atur

- Sering dituduh tanpa alasan dan bukti yang jelas
- Mertua dan anak-anaknya seakan selalu benar dan tidak bisa dibantah, sedangkan menantu selalu salah
- Seakan tidak punya hak untuk berbicara dan membela diri
- Diperlakukan tidak adil/semena-mena
- Mertua iri/cemburu (biasa terjadi saat suami lebih sayang istri daripada ibunya)

- Mertua meskipun mungkin hatinya baik tapi kenapa saat berbicara kata-katanya"pedas", "nuncep", "panas" di kuping dan nyakitin hati
- Mertua ikut campur urusan rumah tangga
- Mertua mencampuri urusan anak
 -Mertua membanding-bandingkan cucu dari menantu dengan cucu dari anaknya yang lain
- Intinya kalau 24 jam ada bersama dengan mertua pasti ada saja ributnya. Hal ini pula yang sering menyebabkan para menantu lebih sering menghabiskan waktunya di dalam kamar saat berada di rumah mertua

Semua hal diatas saya rangkum berdasarkan pengalaman nyata banyak orang. Terutama pengalaman orang-orang yang saya rangkum secara eksklusif dari forum www.ibuhamil.com, orang-orang disekitar saya, dan pengalaman para klien yang datang ke ruang terapi saya. 

Hal-hal seperti yang saya rangkum diatas pada akhirnya kerap kali mengakibatkan banyak menantu yang menjadi stress, tertekan, sakit hati, marah, sedih, kecewa, luka batin, dsb dalam menghadapi mertua dan saudara ipar. Banyak dari para menantu yang sakit hati ini hanya bisa menangis dan menumpahkan isi hatinya (curhat) di forum dengan sesama menantu yang juga tersakiti. Sayangnya, diskusi panjang dan simpati antar sesama orang yang tersakiti tak bisa menyembuhkan dan menghilangkan rasa sakitnya. Karna rasa sakit hati itu adanya di pikiran bawah sadar, jadi untuk menyembuhkannya yaa harus di pikiran bawah sadar yakni dengan tehnik hipnoterapi.

Meskipun ada juga mertua yang bersikap baik dengan menantunya dan ada banyak hal yang bisa menyebabkan konflik diantara mertua dengan menantu perempuan. Yang akan saya bahas saat ini terbatas hanya dari pengalaman dan kasus nyata yang umumnya terjadi dan pernah saya tangani di ruang praktek. Yakni dimana menantu perempuan, terutama yang tinggal bersama di rumah mertua merasa sakit hati dan tertekan dengan mertua perempuan.

Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang memilih untuk tetap tinggal bersama dengan orang tuanya bahkan setelah ia menikah dan memiliki anak. Biasanya tak jauh-jauh dari alasan ekonomi seperti ingin menghemat biaya, tidak mau repot dan belum punya rumah sendiri. Ada juga yang karna masih memiliki ketergantungan yang tinggi dengan orang tua, tidak bisa tinggal jauh ataupun terpisah dari orang tua, tidak boleh meninggalkan rumah orang tua, kasihan orang tuanya tinggal sendiri tidak ada yang merawat, tak tenang meninggalkan istri dan anak sendirian di rumah, dsb.

Apapun alasannya semua orang yang telah menikah pastilah mengerti betul, tidaklah mudah untuk tinggal rukun bersama dengan orang lain. Meski tidak terjadi kepada semua orang namun nyatanya masih banyak orang yang mengalami kesulitan untuk rukun hidup bersama dengan orang lain di dalam satu atap bahkan meskipun orang tersebut adalah pasangan kita yang kita pilih sendiri. Apalagi jika di dalam satu atap itu juga ada mertua dan saudara-saudara ipar kita. 

Entah mengapa umumnya perempuan lebih rentan terkena masalah saat tinggal bersama dengan mertua perempuan dan ipar perempuan dari pasangannya ketimbang laki-laki. Mungkin bisa terjadi karna perempuan memiliki perasaan yang lebih halus, lebih peka dan pastinya lebih sensitive ketimbang laki-laki. Itu sebabnya “gesekan-gesekan” yang tidak enak lebih mudah terjadi antar perempuan ketimbang lawan jenis. Terlebih lagi jika perempuan itu merupakan tipikal ibu rumah tangga yang lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah, sama seperti mertua perempuannya. Hal seperti ini seringkali mengakibatkan sering bertemu dan entah mengapa, sering menimbulkan banyak konflik.

Jika sudah terjadi konflik antara menantu perempuan dengan mertua perempuan maka biasanya hampir pasti suami juga pasti akan ikut terlibat atau dilibatkan. Hal ini seringkali mengakibatkan suami terjepit diantara dua pilihan yang begitu sulit. Membela ibu, istrinya marah. Membela istri, ibunya yang marah. Tentu saja hal ini kerapkali membuat suami menjadi pusing dan ikut tertekan karena yang diinginkan oleh suami seringkali hanyalah hidup rukun dan damai. Namun mengapa jika sudah melibatkan istri dan ibu tinggal bersama di dalam satu atap, seringkali menjadi begitu sulit untuk hidup rukun dan damai.

Saya yakin setiap mertua yang ideal pada umumnya pasti tidak memiliki maksud jahat apapun terhadap anak ataupun menantunya. Hanya saja tahukah Anda, seringkali luka batin dan minimnya pengetahuan yang dimiliki oleh para mertua ini tanpa sadar membuat mereka mengulangi masa lalu mereka yang kelam terhadap menantu mereka. Apa sih maksudnya? Untuk lebih jelasnya saya akan langsung gunakan contoh kasus nyata yang pernah saya tangani di ruang terapi.

Ini merupakan kasus nyata dan benar-benar terjadi serta nyatanya banyak terjadi di luaran, setidaknya di ruang terapi saya. Untuk melindungi privasi klien tentu saja saya telah mengganti nama asli klien dengan nama samaran.

Suatu hari saya dihubungi oleh seseorang yang bernama Raffi (bukan nama sebenarnya). Raffi sedang mencari terapis untuk membantu istrinya Nagita (juga bukan nama sebenarnya). Nagita, seorang ibu muda yang cantik dan mungil datang kepada saya dengan keluhan memiliki hal yang terpendam yang meliputi rasa marah, terluka, dendam, sakit hati, menyesal, kesepian, sedih dan dikucilkan selama bertahun-tahun dengan mertua perempuannya. Dimana hal ini telah berlangsung selama bertahun-tahun. 

Nagita jelas sakit hati karna seringkali dibentak, dimarahi, dituduh padahal jelas-jelas tidak salah, sering dibanding-bandingkan dengan anak perempuan mertua, anaknya juga sering dibanding-bandingkan dan dijelek-jelekan. Dan tentunya Nagita selama bertahun-tahun hanya bisa menelan pahit semua rasa getir yang ia alami selama ia tinggal bersama di rumah mertuanya.

Awalnya Nagita merupakan wanita yang ceria. Namun setelah beberapa tahun ini, semenjak ia dan suaminya memutuskan untuk tinggal bersama di rumah mertua, bahagia seakan lenyap dari hati dan wajahnya. 

Selintas ia menyebutkan meski mertuanya memiliki pembantu pulang hari di rumahnya, namun entah mengapa, mertua perempuannya selalu ngotot piring kotor sehabis makan malam harus langsung dicuci bersih malam itu juga saat pembantunya sudah pulang. Dan sudah seperti rahasia umum, jika ada piring kotor di rumah mertua dan tidak ada pembantu atau pembantunya sudah pulang, maka sudah seperti otomatis seakan-akan hal ini menjadi kewajiban menantu perempuan, tanpa disuruh. Karna sudah bisa dipastikan jika Nagita tidak mencuci piring maka hampir pasti mertuanya lah yang akan mencuci dan marah-marah. Jadilah setiap malam ia mencuci piring kotor sendirian sambil menangis.


Hipnoterapi solusi menantu vs mertua
Source: makassar.tribunnews.com. Foto hanya untuk ilustrasi. 

Namun ternyata bukan hal itu yang membuat Nagita datang kepada saya. Karna yang paling membuat ia sakit hati adalah saat setiap kali ia mengingat-ingat kejadian sewaktu ia dibentak dan dimarahi oleh mertua perempuannya bertahun-tahun yang lalu, dan tentunya masih terjadi hampir setiap hari hingga sekarang. Hal tersebut ternyata menjadikannya tertekan dan kerap marah-marah. Apalagi karna ia tinggal menumpang di rumah mertua tentu saja hal ini menjadikannya seakan-akan tak punya hak untuk membela dirinya.

Jadi setiap kali ia dimarahi, dibentak, dituduh, dibandingkan, dijelek-jelekkan, ia hanya memilih untuk diam seribu bahasa. Tak pernah sekalipun ia membalas omongan buruk yang dilontarkan oleh mertua perempuannya. Namun berdiam diri tak lantas menjadikannya baik-baik saja. Karna saat seseorang kesal dan ia memilih untuk berdiam diri, ia otomatis menekan ke dalam hatinya semua emosi negative tersebut dan sedang menimbun sampah emosi di dalam hatinya tanpa ia sadari. Karna sesungguhnya saat seseorang sedang mengalami peritiwa yang membuatnya merasa tidak enak, tidak nyaman, marah, terluka, dendam, sakit hati, menyesal, kesepian, sedih, dan sejenisnya di dalam hatinya, sesungguhnya orang itu sedang mengalami yang namanya luka batin (baca: sakit hati).

Karena kejadian ini terjadi hampir setiap hari maka tentu saja saat sudah didiamkan selama bertahun-tahun sampah emosinya sudah begitu menumpuk dan menggunung. Dan karna timbunan sampah emosinya sudah begitu tinggi maka adalah wajar jika kini Nagita berubah menjadi gampang emosi dan gampang marah. Istilah kata kata, ada masalah sedikit saja, bisa membuat Nagita marahnya banyak (berlebihan dan tidak wajar).

Ibaratnya jika kita menekan balon udara di sisi kanan, maka otomatis balon tersebut akan menggembung di sisi lainnya (yang paling gampang). Itu pula yang terjadi dengan Nagita. Kini saat ia merasa tertekan oleh mertua perempuannya, dan ia masih tidak punya kuasa untuk melawan (karna masih tinggal di rumah mertua). Maka Nagita otomatis akan mengeluarkan tekanannya ke orang lain yang lebih lemah. Dalam kasus ini, Nagita melampiaskannya ke suami dan kadang hingga ke anaknya.

Hal seperti ini merupakan hal yang sering terjadi dan banyak saya temukan di ruang terapi. Dimana "dulu korban sekarang pelaku." Jadi, selidik punya selidik, mertua Nagita pun DULU ternyata merasa tertekan dan diperlakukan semena-mena oleh mertua perempuannya berpuluh-puluh tahun yang lalu. Hal tersebut tentu saja membuatnya merasa tertekan, marah, benci, terluka, sakit hati sekaligus sedih, persis seperti yang dialami oleh Nagita.


Hipnoterapi solusi menantu vs mertua
Source: brilio.net. Foto hanya untuk ilustrasi.  

Bisa jadi saat itu Pikiran Bawah Sadarnya tanpa sadar memaknai kejadian itu menjadi suatu program di Pikiran Bawah Sadarnya TANPA ia sadari. Mungkin saja program yang ia masukkan adalah “oo…jadi begitu toh kalo jadi mertua. Boleh seenak-enaknya dengan menantu dan jadi menantu harus diam menerima saja.” Apalagi di budaya kita orang Indonesia umumnya punya etika sopan santun yang diturunkan dari generasi ke generasi misalnya “sama orang yang lebih tua harus sopan! Kalau orang tua ngomong, anak diam saja! Kalau membalas omongan orang tua artinya anak kurang ajar dan tidak sopan!”, dsj.

Sebenarnya sah-sah saja punya etika sopan santun yang demikian, hanya saja yang sering terjadi adalah orang yang lebih tua (termasuk orang tua dan mertua), belum tentu lebih benar dan selalu benar. Seringkali kurangnya ilmu pengetahuan yang dimiliki menjadikan usia dengan kebijaksanaan dan pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang tidak berbanding lurus dengan usianya.

Apakah anda pernah mendengar, mengetahui, mengenal ataupun menemukan orang yang secara usia jauh lebih tua dari kita NAMUN secara sifat, kelakuan, dan pola pikirnya jauh lebih kekanak-kanakan dari kita. Namun orang itu selalu ngotot bahwa ia lebih benar HANYA KARNA ia lebih tua dari kita atau orang itu adalah mertua kita sendiri. Ini pula yang seringkali akhirnya menjadi akar masalah yang berbuntut panjang dan berakhir di ruang terapi saya.

Sekarang marilah kita luangkan waktu sejenak dan merenungkan kejadian nyata ini. Saat dulu masih berstatus sebagai menantu, mertua Nagita pernah merasa ditekan dan diperlakukan semena-mena oleh mertua perempuannya. Hal ini menjadikannya sakit hati bahkan hingga berpuluh-puluh tahun kemudian saat ia sudah naik tingkat dari status menantu naik tingkat sebagai mertua.

Tahu dari mana ia masih sakit hati? Gampang! Saat ia bercerita dulu waktu jadi menantu….bla…bla…bla... dan kita bisa melihat raut mukanya masih marah, kesal, benci, sedih atau sejenisnya, artinya secara batin orang itu masih terluka dan sakit hati. Bahkan meskipun di mulut ia mengatakan telah memaafkan dan tidak mau mengambil hati, tidak mau ingat-ingat, ataupun tidak mau memikirkan perbuatan mertuanya jaman dulu. 

Namun jika hatinya masih tetap merasa tidak nyaman, bahasa tubuhnya menunjukkan ia masih kesal, itu artinya ia belum benar-benar memaafkan, luka batinnya masih ada bahkan seiring waktu semakin dalam, dan hati tidak pernah bohong.

Kini, sekian puluh tahun kemudian ia telah menjadi mertua dan memiliki menantu bernama Nagita. Tanpa sadar, ia ternyata memperlakukan Nagita PERSIS SEPERTI mertuanya memperlakukan ia dulu. Semena-mena, sering dimarahi, dibentak, dituduh, dibanding-bandingkan, dijelek-jelekkan, selalu salah, tidak berhak membela diri, dsb.

Dan jika hal ini dilanjutkan terus menerus maka besar kemungkinan akan terjadi kejadian yang berulang dimana puluhan tahun yang akan datang saat Nagita menjadi mertua. Besar kemungkinan TANPA SADAR ia akan memperlakukan mantunya PERSIS SEPERTI dulu ia diperlakukan oleh mertuanya. Jika sudah seperti ini  bukankah ini namanya “lingkaran setan”? Bedanya "dulu korban sekarang pelaku" betul?

Hal ini akan terus berlanjut hingga kita memutuskan untuk membreak cycle atau “lingkaran setan” ini. Sayangnya kebanyakan dari kita tidak tahu caranya untuk membreak cycle ini. Salah satu cara yang jelas terbukti efektif untuk membreak “lingkaran setan” ini adalah hipnoterapi. 

Mengapa hipnoterapi? Karna hipnoterapi mencari akar masalah dan mencabutnya hingga ke akar. Sehingga saat ada luka batin, hipnoterapi lebih dari sekedar menyembuhkan luka batin. Hipnoterapi bahkan mampu membuat klien mengambil hikmah dan pembelajaran dari kejadian itu. Dan di saat luka batin itu telah sembuh, maka cycle atau "lingkaran setan" itu juga otomatis akan berhenti, STOP sampai disini. 

Kenapa? Karna klien yang telah sembuh luka batinnya akan mampu menghadapi situasi dan kondisi yang sama dengan respon yang berbeda. Maksudnya jika sebelum diterapi klien mengingat-ingat saat dibentak mertua, klien merasa sakit hati maka setelah diterapi klien akan menyingkapinya dengan lebih bijaksana sehingga klien akan tetap netral dan baik-baik saja.

Singkat cerita, setelah diberikan penjelasan mengenai apa itu hipnoterapi yang sesungguhnya, Nagita pun bersedia di hipnoterapi atas keinginannya sendiri. Hal ini penting karna syarat utama seseorang bisa di hipnoterapi adalah adanya keinginan dari dalam dirinya sendiri untuk bersedia diterapi. Untuk lebih jelasnya mengenai proses hipnoterapi ini bisa klik disini. Pada kasus Nagita karna pada akhirnya yang tertindas adalah suami, maka pada awalnya yang berusaha mencari solusi dan informasi adalah suami karna menyangkut kepentingan suami.

Hanya setelah mendapatkan sesi konseling dan edukasi mengenai apa itu hipnoterapi yang sesungguhnya, Nagita akhirnya memutuskan untuk bersedia diterapi secepatnya. Saat konseling Nagita sempat bertanya “bu, apakah ini artinya saat saya merasa tertekan oleh perlakuan mertua dan saya tanpa sadar membalasnya ke suami… apakah ini artinya suami saya… juga merasakan rasa sakit hati dan merasa tertekan seperti yang selama ini saya rasakan…?” Nagita bertanya pelan-pelan dengan hati-hati dan suara lirih. “Iya” adalah jawaban saya. 

Mendengar jawaban saya, langsung meledaklah tangis Nagita karna bagaimanapun ia sangat sayang suami dan juga anaknya. Ia sebenarnya tidak ingin melakukan hal itu (baca: marah dan emosi) namun tidak bisa. Semua orang yang pernah dan masih memiliki problem emosi dan gampang marah pasti tahu persis bahwa sebenarnya jika ditanya pasti kita jawab, “kita sebenarnya tidak mau marah. Tapi nggak bisa….nggak tahan kalo kaga marah…. abis….(bla bla bla)”. Itu adalah salah satu ciri-ciri orang yang terluka batinnya dan karenanya butuh untuk disembuhkan dengan hipnoterapi.

Singkat cerita di dalam terapi ditemukan ada beberapa kejadian yang membuat Nagita merasa tertekan dan sakit hati dengan mertuanya. Ternyata akar masalahnya adalah pada waktu ia berusia 27 tahun (Nagita kini berusia 32 tahun). Saat ia mau menikah, dalam posisi habis pingsan ia disuruh oleh adik calon mertuanya untuk membersihkan sendiri lantai yang sangat kotor, yang tidak mungkin bisa dibersihkannya seorang diri apalagi dengan kondisinya saat itu yang masih lemah karna baru bangun sehabis pingsan.


Hipnoterapi solusi menantu vs mertua
Source: brilio.net. Foto hanya untuk ilustrasi. 
Iyaa…. Jadi temuan saya di ruang terapi memang seperti itu. Seringkali saat seseorang merasa sakit hati, marah, terluka, tertekan, dendam, menyesal, kesepian, sedih, benci, dsj dengan si A, faktanya seringkali ditemukan akar masalahnya bukan si A tapi si C. Kenapa bisa seperti itu? Karena seringkali orang yang bersangkutan (dalam hal ini Nagita) secara sadar tidak tahu atau tidak ingat akar masalah yang sesungguhnya. 

Untungnya Pikiran Bawah Sadarnya pasti ingat karna salah satu fungsi dari pikiran bawah sadar adalah Long Term Memory. Maksudnya setiap detik kejadian di dalam hidup kita ternyata terekam di Pikiran Bawah Sadar kita persis seperti camcorder. Hal ini yang menyebabkan apapun akar masalah kita, Pikiran Bawah Sadar kita pasti ingat.

Kejadian-kejadian itu juga diperkuat dengan beberapa kejadian lain yang serupa tapi tak sama diantaranya Nagita dimarahi dan dituduh tidak menutup sayur di atas meja. Padahal jelas-jelas yang lupa menutup adalah anak perempuan mertua namun mertuanya tidak berani memarahi anak perempuannya karna anak perempuannya galak. Jadi kalo dimarahi, anak perempuannya akan balas memarahi. Dan sesuai hukum rimba yang kuat yang berkuasa, jadilah Nagita sebagai yang dianggap lemah, dijadikan pelampiasan kekesalan mertuanya terhadap anak perempuannya.

Lalu ada juga kejadian dimana saat hujan ia dituduh mengambil payung mertuanya padahal ia sama sekali tidak mengambil. Dan ditambah kejadian saat ia lagi merawat anaknya yang sakit ia dibentak disuruh turun dari lantai 3 ke lantai 1 untuk mengambil gas atau menyuruh orang ambil gas.

Bagi sebagian dari kita mungkin merasa hal tersebut tampak sepele, namun tidak demikian hal nya bagi Nagita. Karna hal yang tampak sepele bagi kita belum tentu sepele bagi orang lain, begitupun sebaliknya. Hal yang tampak sepele bagi orang lain bisa jadi merupakan hal yang besar dan traumatic bagi kita. 

Karna temuan saya di ruang terapi membuktikan TIDAK BUTUH akar masalah yang besar untuk menjadi masalah besar. Seringkali banyak masalah besar yang disebabkan oleh akar masalah yang simple dan tampak sepele serta banyak terjadi di dalam keseharian kita sehingga seringkali dianggap biasa saja. Namun hal seperti itu ternyata adalah bibit, dan seperti yang kita semua tahu bibit bisa menjadi besar dan kita tidak tahu bibit itu bisa menjadi sebesar apa. Untuk mengetahui contoh kasus lain yang berawal dari kejadian yang sekilas dianggap sepele namun berbuntut panjang bisa klik disini.

Seusai proses terapi Nagita mengaku sudah bisa memaafkan mertuanya dan kali ini ia benar-benar sudah bisa memaafkan mertuanya. Terbukti saat mengingat-ingat mertuanya ia telah merasa baik-baik saja. Sudah tidak ada lagi rasa marah, terluka, dendam, sakit hati, menyesal, kesepian, sedih dan dikucilkan, tertekan, tidak enak dan tidak nyaman di dalam hatinya. Sebaliknya ia langsung sudah bisa tertawa lepas, kembali bahagia serta berwajah ceria seperti dulu. Ia kini sudah bisa merasakan hatinya kembali lega, plong dan nyaman sekali.

Tak ada cara yang lebih efektif untuk menguji keberhasilan hasil terapi Nagita selain memulangkan Nagita untuk kembali menghadapi mertuanya secara langsung. Toh mereka masih tinggal bersama, setiap hari bertemu, sepanjang hari ketemu, buka pintu kamar saja sudah bertemu.

Saat pulang, Nagita memberi kabar kepada saya bahwa ia sudah merasa baik-baik saja saat berhubungan dengan mertuanya. Dan bahkan saat mertuanya membanding-bandingkan cucu dari Nagita dengan cucu dari anak perempuannya dengan mengatakan anak Nagita jahat, beda dengan cucu dari anak perempuannya yang baik dan penurut. 

Berbeda dari biasanya, menghadapi hal seperti itu Nagita bisa menyingkapinya dengan bijaksana dan tetap baik-baik saja. Tentu saja Nagita sudah saya bekali pengetahuan untuk membantu anaknya memblok program-program buruk yang tanpa sadar seringkali dilontarkan oleh mertua perempuannya.

Dengan bertambahnya kebijaksanaan Nagita seusai terapi, ia kini bisa mengerti bahwa sebenarnya tidak ada maksud jahat saat mertuanya mengatakan hal buruk seperti itu kepada anaknya. Hanya saja KURANGNYA PENGETAHUAN dan luka batin, seringkali menjadikan orang tua termasuk mertua yang harusnya memberikan program baik kepada anak-anak dan cucu mereka, seringkali mengulangi kesalahan klasik orang tua mereka dengan membanding-bandingkan anak dan cucu mereka. Yang tanpa mereka sadari hal itu bisa menjadi akar masalah di kemudian hari. Baca artikel saya yang berikutnya dimana seorang ibu muda menjadi pemarah hanya karna waktu kecil sering dibanding-bandingkan oleh orang tuanya.

Nagita bahkan sudah bersedia menemani mertuanya malam-malam jalan berdua ke pasar untuk membantu mengurusi berbagai keperluan acara keluarga mertuanya. Beberapa hari setelah terapi Nagita juga memberi kabar bahwa kini, setelah luka batin di hatinya sembuh dan sikapnya membaik serta jauh berubah, entah mengapa sikap mertuanya kepada dirinya juga jauh membaik. Mertuanya berhenti marah-marah, sudah menyapanya dengan sikap baik dan menawarkan makan (sebelum terapi tidak pernah). Singkat cerita akhirnya damai dan bahagia kembali datang di kehidupan Nagita.

Di akhir kata saya ingin mengatakan, kita tidak bisa mengubah orang lain, namun kita bisa mengubah diri kita sendiri dan lihatlah betapa dengan kita berubah maka orang lain juga ikut berubah.

Dibawah ini adalah testimoni dari Nagita yang telah berbaik hati memberikan ijin untuk berbagi kisah ini untuk menginspirasi banyak menantu dan mertua bahwa mereka bisa kok hidup berdampingan dan tetap rukun serta bahagia.



Hipnoterapi solusi menantu vs mertua
Testimoni dari Nagita setelah di hipnoterapi
#sayaterapisyangbahagia

Notes:
Seandainya semua mertua menyadari semua tekanan dan perlakuan buruk mereka kepada menantu HANYA akan diteruskan kepada anak dan juga cucu mereka… Apakah para mertua ini masih akan melakukan hal yang sama?

Mertua yang bersikap buruk terhadap menantunya adalah ex menantu yang hampir pasti memiliki luka batin terhadap mertuanya terdahulu dan SOLUSINYA ia butuh untuk disembuhkan dengan hipnoterapi.

Mertua yang bersikap buruk terhadap menantunya adalah mertua yang mewariskan luka batinnya kepada menantunya. Dan hampir pasti biasanya tanpa sadar luka batin itu akan diteruskan oleh menantunya ke suaminya (anak mertua), anak-anaknya (cucu-cucu dari mertua itu sendiri), dan saat menantunya sudah naik tingkat menjadi mertua ia juga cenderung akan mengulangi hal yang sama dan terus berulang.

Menantu yang masih memiliki rasa kesal, marah, benci, terluka, sakit hati, dsj oleh mertuanya adalah menantu yang terluka batinnya dan SOLUSINYA ia butuh untuk disembuhkan dengan hipnoterapi agar ia bisa melanjutkan hidupnya dengan damai, dan bahagia. Jadi saat kita "terluka", kita butuh menyembuhkan diri kita sendiri, demi untuk kebaikan diri kita sendiri, bukan untuk orang lain. Dan ternyata sakit hati dengan mertua selama bertahun-tahun, terbukti bisa sembuh hanya dengan teknologi pikiran yakni hipnoterapi.

Mertua dan menantu yang bijak adalah mereka yang berpikiran terbuka, rendah hati, bisa menerima kenyataan, mau mengampuni dan memilih untuk memutuskan “lingkaran setan” ini dengan cara menyembuhkan luka batinnya untuk memulai lingkaran hidup yang baru, yang rukun dan bahagia.

Wahai mertua, baik-baiklah dengan menantumu…
Karna nasib anak dan cucu-cucumu, ada di tangan menantumu…

Ingatlah, kunci keluarga yang bahagia ada di tangan ibu yang bahagia…

Notes:

Jika Anda memiliki mertua yang memperlakukan Anda dengan baik, bersyukurlah karna tidak semua orang seberuntung Anda...

Jika Anda sakit hati dengan siapapun terutama mertua, maka Anda butuh di hipnoterapi...

Jika Anda pernah mengalami kejadian buruk, maka Anda butuh di hipnoterapi...

Jika Saat Anda teringat seseorang/suatu kejadian, dan di hati terasa tidak enak, maka Anda butuh di hipnoterapi...


#imelyoung

#imelhipnoterapis
#hipnoterapiskeluarga
#sayaAWGI

0 komentar:

Posting Komentar