Jumat, 30 September 2016

Stress, Bosan, Emosi Berlebih, dan Terbebani oleh Anak


Saya Stress dan Bosan. Saya Memiliki Emosi Berlebih, dan Merasa Terbebani oleh Anak. Saya Harus Bagaimana?

 

“Saya stress dan bosan menghadapi kondisi anak saya. Saya merasa terbebani oleh anak, saya memiliki emosi berlebih terhadap anak dan saya takut menyakiti anak-anak saya.” Ini lah sebagian emosi yang dicurahkan oleh salah seorang klien saya, sebut saja namanya Maya, bukan nama sebenarnya. Sebagai seorang ibu muda berusia 33 tahun dengan 2 orang anak yang masih kecil-kecil, rutinitas yang sama setiap hari wajar saja membuat Maya merasa bosan. “Dulu biasa bisa pergi keluar gampang, sekarang kaga bisa. Misalnya ada janji sama teman hari ini, kaga bisa pergi karna anak-anak. Pokoknya banyak kendala karna anak-anak.  Karena setiap kali mau pergi kemana-mana rasanya repot bangett!!” ujar Maya dengan penekanan nada.

Maya juga mengaku saking kesalnya, kadang ia kerap menangis seorang diri di dalam kamar. Ditambah lagi Maya memiliki kepercayaan yang mengatakan bahwa anak pertama tidak boleh dipukul. Jadilah meski kesal, Maya tidak berani memukul anaknya yang pertama. Namun beda ceritanya dengan anaknya yang kedua. Sekedar informasi, Maya memiliki dua orang anak yang masih kecil-kecil. Anak yang pertama seorang perempuan berusia 4 tahun, sebut saja Indah, bukan nama sebenarnya. Sedangkan anak yang kedua seorang laki-laki berusia 2 tahun, sebut saja namanya Ferry, juga bukan nama sebenarnya.

Stress Bosan Emosi Berlebih dan Terbebani oleh Anak
 
Maya mengaku sehari-hari semisal ia lagi sibuk di dapur memasak ataupun mencuci piring, Indah dan Ferry sering kali berantem rebutan mainan. Apapun mainan yang dipegang oleh Indah selalu saja direbut oleh Ferry. Tidak hanya itu, Ferry juga kerap kali teriak keras-keras dan berbuat nakal kepada Indah. Walaupun Maya mengaku sudah seringkali menasihati Ferry namun masih saja Ferry terus berbuat nakal seperti memukul, ataupun merebut mainan kakaknya, Indah. Melihat Indah yang kerap kali seperti anak yang tak berdaya, dipukul adiknya dan sama sekali tidak membalas, terkadang membuat Maya kesal dan hilang kesabaran sehingga tak kuasa untuk tidak memukul Ferry.  “Habis adiknya dikit-dikit mukul, teriak-teriak. Yang kesatu khan kaga pernah mukul adiknya” ujar Maya. “kerjaan belum selesai, mereka sudah berantem. Aku jadi pusing dengerinnya. Dengerin mereka tiap kali berantem tuh aku pusing. Jadi sebener kerjaan rumah VS anak-anak deh yang bikin aku pusing” keluh Maya.

Maya mengaku meskipun di kepala dan pikirannya ia tahu memukul anak itu salah, tapi tetap saja kadang ia merasa tak kuasa untuk tak memukul Ferry saking kesalnya. Padahal Maya sebenarnya sudah sering mengikuti seminar parenting dan tumbuh kembang anak, tapi tetap saja hal tersebut seperti tak kuasa membantunya untuk tidak berteriak ataupun memukul Ferry, meskipun ia tahu hal itu salah dan tidak bagus untuk perkembangan anak.

Stress Bosan Emosi Berlebih dan Terbebani oleh Anak
 
Dengan alasan itu pula akhirnya Maya memutuskan untuk datang ke saya karena ia takut perbuatannya seperti memukul dan teriak-teriak akan membuka luka batin yang baru bagi anak-anaknya terutama Ferry. Sepertinya ini merupakan problem yang serius jika bahkan Indah sendiri sampai mengganggap Maya tidak sayang dengan Ferry. Padahal kepada saya Maya mengaku sebenarnya ia lebih sayang dengan Ferry ketimbang Indah. “Sebener sayang sama Ferry” ujar Maya dengan nada tulus dan mata sendu mendayu,  “Tapi sering gangguin kakaknya, jadi aku kesal.” sambung Maya kemudian dengan nada kesal.

Jadi di satu sisi, Maya tak ingin menambah luka batin baru bagi anak-anaknya. Namun di sisi lain, Maya juga merasa ribet dengan adanya anak-anak dan hidupnya terasa menjadi tidak menyenangkan sehingga gampang emosian. “Pokoknya saya merasa tidak nyaman bersama anak-anak, terutama Ferry” ujar Maya.

Setelah jelas akan masalah yang mau diselesaikan melalui hipnoterapi, Maya pun diberikan penjelasan mengenai apa itu hipnoterapi yang sebenarnya dan gambaran besar akan seperti apa proses terapinya. Singkat kata Maya pun dibimbing untuk mengalami kondisi rilexasi yang dalam dan menyenangkan. Cukup mudah bagi saya untuk bisa membawa Maya masuk ke kondisi rilexasi yang dalam dan menyenangkan karena Maya memiliki tekad yang kuat untuk bisa keluar dari masalahnya. Memang itulah salah satu syarat utama untuk bisa menjalani hipnoterapi yakni klien memiliki niat kuat dari dalam dirinya sendiri untuk bisa keluar dari masalahnya.

Di dalam proses terapi  berhasil diketemukanlah akar masalah penyebab Maya memiliki sikap emosian dan tidak nyaman dengan anak-anaknya. Ternyata problem itu berawal 5 tahun yang lalu, saat Maya yang berusia 28 tahun, sedang di ruang tunggu Rumah Sakit, menunggu anaknya Johan, bukan nama sebenarnya, yang masuk Rumah Sakit karena dehidrasi dan panas tinggi. Ternyata jauh sebelum Indah lahir, Maya telah memiliki seorang anak bernama Johan yang notabene adalah kakak Indah. Namun sayangnya hanya dalam hitungan hari sejak menderita dehidrasi dan panas tinggi di usia 7 bulan, Johan meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. “Kepergian” mendadak Johan sebagai anak pertama dan satu-satunya saat itu bagi Maya ternyata tidak hanya membuatnya shock namun juga menorehkan duka dan luka yang sangat mendalam di hatinya.

Kejadian traumatik itu ternyata membuatnya memiliki emosi sedih dan marah yang mendalam, yang terus tersimpan dalam hatinya dan terbawa hingga sekarang, tanpa ia sadari. Meskipun 5 tahun sudah berlalu namun ternyata semua emosi sedih dan marah yang ia rasakan saat kehilangan anaknya yang pertama, Johan, kini timbul setiap kali ia melihat anak bungsunya, Ferry. Kok bisa begitu? Karena pikiran bawah sadar persis seperti anak umur 8 tahun yang diangkat menjadi raja. Bayangkan seorang anak 8 tahun yang diangkat menjadi raja. Apakah di dalam bertindak ia  akan masuk akal secara logika? Tentu saja tidak. Itu sebabnya di dalam praktek terapi saya seringkali menemukan akar masalah yang sekilas tampak tidak nyambung dengan problem yang ingin disembuhkan. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih jelas mengenai apa itu pikiran bawah sadar bisa klik DISINI. Dan untuk mengetahui lebih jelas seperti apa proses hipnoterapi yang sesungguhnya bisa klik DISINI.

Dengan tehnik tertentu sayapun membimbing Maya untuk melepaskan semua rasa sedih, marah dan seluruh rasa tidak nyaman yang ia menumpuk di hatinya selama 5 tahun ini sehingga ia bisa mengikhlaskan kepergian anaknya yang pertama, Johan dan melanjutkan hidupnya dengan penuh rasa tenang, bahagia, penuh sukacita, damai, aman, dan gembira.

Di akhir terapi, Maya juga saya bimbing agar bisa mengambil hikmah dan pembelajaran dari kejadian yang semula traumatik bagi dirinya. Kini Maya mengaku hatinya kini merasa tenang, lebih sabar, bijaksana, menerima, lebih gembira, lebih ikhlas, sukacita, dan damai sejahtera. Hikmah yang pastinya baru bisa ia sadari di saat luka batin di hatinya telah sembuh dan hatinya telah kembali tenang, lega dan plong.   

Selesai terapi, semua emosi seperti marah, kecewa, tersinggung, benci, menyesal, frustasi, takut, cemas, sedih, merasa tidak mampu, posesif dan gagal yang kesemuanya level mentok saat sebelum terapi, kini telah hilang dan musnah dari dalam hatinya. Yang tersisa kini hanyalah perasaan gembira, senang, bahagia, damai, ikhlas, dan sukacita.

 

Update terkini:

Satu minggu setelah terapi saya kembali menghubungi Maya untuk mengetahui hasilnya. Maya pun mengakui kini ia merasakan anak-anaknya menjadi lebih manis, dan hubungan dengan suaminya juga membaik. Meskipun repot banget dan suara masih tinggi kadang masih ada, tapi Maya mengakui sangat jelas ada perbedaan baik dari dirinya juga dari anak-anaknya. Hal-hal baik dan menyenangkan juga mulai mendatangi hidupnya. Salah satunya, Maya mengaku terkejut dan senang saat tiba-tiba mendapatkan kejutan manis setelah 5 tahun nikah, baru diajak jalan-jalan nginep di puncak sekeluarga. Suatu kejutan menyenangkan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sayapun turut senang mendengarnya.
 
Testimoni HipnoterapiTestimoni Hipnoterapi


Beberapa minggu kemudian sayapun kembali menghubungi Maya untuk mengecek seberapa konsisten hasilnya. Kini Maya mengaku meskipun kadang kesel masih ada tapi sekarang dibawa  nyantai aja. Meski ada saat nya juga kalo udah capek ngomel-ngomel juga. Tapi bedanya kini Maya bisa mengendalikan dirinya sendiri. Ia pun mengakui adanya perbedaan yang jauh membaik antara sebelum terapi dengan sesudah terapi.

Testimoni Hipnoterapi


Notes:

Maya adalah klien ke sekian yang merasa bingung dengan adanya perubahan dari orang-orang di sekeliling nya yang menjadi lebih baik, padahal yang diterapi hanyalah dirinya.  Karena kini saat menghadapi orang yang sama, perasaannya telah jauh membaik. Dan herannya, sebaliknya sikap orang tersebut terhadapnya juga membaik. Ini sesuai dengan hukum energy. Saat perasaan kita membaik, energy kita juga membaik, dan energy tersebut ikut mempengaruhi energy orang-orang di sekeliling kita yang pada akhirnya membuat orang tersebut sikapnya juga menjadi lebih baik terhadap kita.

Satu lagi yang sering saya tekankan kepada klien-klien saya adalah meskipun di dalam terapi misal rasa marahnya dihilangkan namun BUKAN BERARTI lalu setelah terapi klien yang bersangkutan menjadi tidak bisa marah lagi. Karena yang saya netralkan emosinya adalah emosi negative semisal marah yang bertumpuk sekian tahun, bahkan sekian puluh tahun yang terus membebani hati. Ibarat tumpukan sampah, jika puluhan tahun tidak pernah dibuang maka saat ada sedikit saja penambahan sampah yang baru, maka sampah nya akan mudah tumpah. Ini menjelaskan kenapa orang dengan beban menumpuk di hatinya maka orang tersebut jika terkena masalah sedikit saja mudah marah, ngamuk, nangis, kesal, kalap ataupun sejenisnya lebih dari yang seharusnya.

Namun saat semua sampah-sampah sekian tahun bahkan sekian puluh tahun tersebut telah selesai dibuang, maka meskipun sampah baru tetap bisa bermunculan jika tidak dijaga, namun rasanya akan sangat jauh berbeda. Begitu pula Maya. Adalah normal jika manusia bisa merasakan berbagai macam emosi semisal sedih, bahagia, marah, kesal, kecewa, dan sebagainya karena Tuhan memang menciptakan manusia lengkap dengan berbagai emosinya baik positif ataupun negatif. Yang tidak wajar adalah jika masalahnya kecil namun marah, sedih, ataupun kesalnya banyak dan berlebihan. Bagaimana menurut Anda?

 

#ImelHipnoterapis

#SayaAWGI

 

 

 
 
 

2 komentar:

  1. wanita rentan stress, gue korban jadi trauma disorder.. pdhl saya ga ngapa -ngapain bisa dikatakan stabil, tapi umumnya kenapa orang stabil justru jadi korban digangguin sama orang emosi yang naik turun (mood swing) (pengalaman pribadi hidup jadi ga tenang)

    BalasHapus
  2. Betul mba. Saya banyak sekali menangani dan menyembuhkan wanita2 stress terutama ibu2. Ditambah lagi kita tidak bisa mengendalikan hidup dan perilaku orang lain. ... kita hanya bisa mengendalikan diri sendiri. Itu sebabnya penting bagi kita saat menjadi korban seperti mba... untuk segera mencari dan mencabut akar permasalahannya... mengambil hikmah pembelajaran dr setiap kejadian sehingga kita jd org yg lbh baik....meskipun kejadian nya tidak enak... serta memaafkan. ... jika mba mengalami kesulitan, mintalah bantuan profesional 😊

    BalasHapus